Bayah,(20/10/2014),_Pada ahun 1901, Belanda menetapkan politik etis (politik balas budi). Penerapan
politik etis ini menyebabkan banyak sekolah modern yang dibuka untuk penduduk
pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang anak negeri yang berkesempatan
mengenyam pendidikan modern ini. Hal ini disebabkan karena ayahnya memiliki
kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu.
Pada
umur 8 tahun, Kartosoewirjo masuk ke sekolah Inlandsche School der Tweede
Klasse (ISTK). Sekolah ini menjadi sekolah nomor dua bagi kalangan bumiputera.
Empat tahun kemudian, ia masuk ELS di Bojonegoro (sekolah untuk orang Eropa).
Orang Indonesia yang berhasil masuk ELS adalah orang yang memiliki kecerdasan
yang tinggi. Di Bojonegoro, Kartosoewirjo mengenal guru rohaninya yang bernama
Notodiharjo, seorang tokoh Islam modern yang mengikuti alur pemikiran
Muhammadiah. Ia menanamkan pemikiran Islam modern ke dalam alam pemikiran
Kartosoewirjo. Pemikiran Notodiharjo ini sangat memengaruhi sikap Kartosoewirjo
dalam meresponi ajaran-ajaran Islam.



.jpg)
