Bayah, (20/10/2014), Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri; Apakah arti hidup ini?
Saya dengar, banyak orang yang memiliki pertanyaan serupa itu. Namun, saya
tidak begitu yakin jika setiap orang berhasil mendapatkan jawaban yang sama
atas pertanyaan itu. Jadi, bagi Anda sendiri; apakah arti hidup itu?
Bak air di kamar mandi saya yang terbuat dari semen dan batu bata belakangan
ini sering sekali mengalami kebocoran. Maka saya menggantinya dengan bak baru
yang berbahan dasar fiber. Proses pergantian itu menghasilkan setumpuk puing
yang teronggok disamping rumah kami. Sudah saya niatkan meminta bantuan tukang
sampah untuk menyingkirkan puing itu. Namun saya belum bertemu dengannya dalam
beberapa hari terakhir ini. Walhasil, puing-puing itu tetap teronggok disitu.
Membuat pemandangan menjadi terganggu.
Pagi-pagi sekali terdengar seseorang tengah berteriak; ”Maaf Pak,.....! puingnya masih akan digunakan oleh Bapak?.” Perkiraan saya itu adalah
suara Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga kami. Secara spontan saya
menuju ke halaman depan. Beberapa orang dalam mobil bak terbuka telah bersiap
meninggalkan rumah kami. ”Mas,.....anda membutuhkan puing-puing itu?” saya
bertanya. Saat mereka mengiyakan, saya mempersilakannya.... Dan, sejak saat itu,
saya tidak lagi melihat puing-puing itu.
Saya tercenung selama beberapa saat. Sesuatu yang saya anggap tidak
berguna, tanpa disangka dicari-cari oleh orang lain. Kalau dihitung biaya bahan
bakar mobil dan ongkos kerja mereka, maka tidaklah mungkin mereka melakukannya
jika tidak menemukan ’nilai ekonomi’ dari puing-puing itu. Maka kesimpulan
saya; sesuatu yang saya anggap sampah bisa jadi merupakan benda berharga dimata
orang lain.
Bukan sekali itu saya menganggap sesuatu tidak berharga. Bahkan lebih
parahnya lagi, tidak jarang yang saya anggap tidak berharga itu adalah bagian
dari diri saya sendiri. Misalnya, ketika saya merasa sebagai seorang pecundang,
maka saya telah merendahkan nilai diri saya. Betapa seringnya juga saya merasa
tidak berdaya untuk melakukan sesuatu. Seolah tangan ini. Kaki ini. Kepala ini.
Dada ini. Semuanya tidak cukup berguna untuk menjadikan hidup saya bermakna.
Padahal, seandainya saya mengumumkan di media masa: ”barang siapa yang
menginginkan mata saya, silakan diambil saja,” maka saya yakin akan banyak
sekali peminatnya. Tetapi, mengingat betapa saya sering menyepelekan makna mata
ini bagi kehidupan saya, nyata sekali bahwa; saya tidak benar-benar menghargai
anugerah yang telah Allah hadiahkan melalui mata saya. Astaghfirullah.
Bukti lain jika saya sering menyia-nyiakan cinta Allah adalah ketika saya begitu seringnya
membiarkan kemampuan diri saya tersia-siakan. Mata saya tadi, lebih sering saya
gunakan untuk melihat hal yang mungkin Allah tidak sukai. Telinga saya. Lebih
sering saya gunakan untuk mendengarkan suara-suara yang negatif daripada yang
positif. Jari jemari saya lebih sering dipakai untuk menuliskan kalimat-kalimat
buruk daripada yang baik-baik. Sekujur tubuh saya juga begitu.
Saya sering sekali bertanya-tanya tentang ’apa arti hidup ini’.
Sekarang saya mengerti, mengapa saya tidak kunjung menemukan jawabannya. Sebab
seseorang hanya akan bisa menemukan apa arti hidupnya, jika dan hanya jika dia
bisa memberikan arti dari setiap organ tubuh melalui kegunaannya. Dengan kata
lain, ’arti hidup ini’ itu bukan untuk dicari definisinya. Melainkan untuk
diciptakan oleh diri kita sendiri melalui tindakan yang kita lakukan dengan
menggunakan sekujur tubuh kita. Baik tubuh kasar ragawi, maupun tubuh halus
ruhani. Jadi, agak aneh jika kita terus mencari arti hidup tetapi kita terus menerus menyia-nyiakan
hidup kita sendiri.
Jadi, sebenarnya apa sih arti hidup ini? Entahlah. Tergantung bagaimana
kita menggunakannya saja. Jika kita menggunakan hidup untuk kebaikan, maka kita
akan menemukan bahwa ’hidup ini memiliki arti yang baik’. Namun,
jika kita menggunakannya untuk keburukan maka kita memberi arti sebaliknya.
Maka pantaslah jika Allah memberi nilai yang berbeda-beda atas hidup yang telah
diberikannya kepada setiap insan. Dan karena balasan Allah sangat ditentukan
oleh bagaimana cara seseorang menggunakan hidupnya, maka baik dan buruknya kita
dimata Allah sangat ditentukan oleh apakah kita menggunakan hidup kita untuk
kebaikan atau keburukan, dan untuk saling mencintai.
Dengan demikian, tidak penting lagi untuk mencari apa itu arti
kehidupan.
Karena ternyata, justru tugas kitalah untuk memberikan arti
kepada kehidupan yang telah dianugerahkan Allah SWT dan terus memotivasi diri. Seperti kertas putih polos. Terserah kita mau menggoreskan
tulisan seperti apa didalamnya. Karena bersama kehidupan, Allah SWT memberi kita
seperangkat kebebasan untuk memilih; apakah kita ingin kembali kepada Allah
dengan catatan hidup yang baik atau tidak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar